PEMASAR TENTANG ALASAN MENGAPA GENERASI Z BERBELANJA

Setiap pemasar dambakan tahu: Apa yang menjadi perhatian costumer Generasi Z? Bagaimana mereka berbelanja? Apa yang memotivasi mereka untuk laksanakan pembelian? Berikut adalah beberapa jawaban, bersama dengan kata-kata mereka sendiri.

1. Keberlanjutan Penting, Tetapi Mereka Memiliki Anggaran Terbatas

Generasi Z diakui sebagai tidak benar satu generasi yang paling pikirkan dapat keberlanjutan. Meskipun Generasi Z perhatikan lingkungan, mereka juga beberapa besar adalah remaja atau dewasa muda dan wajib pilih bersama dengan bijak bagaimana mereka menggunakan duwit mereka.

“Kami wajib peduli, dikarenakan kami yang dapat ada di sini sepanjang kurang lebih 70 tahun ke depan. Kami dapat menikmati faedah dan bisa saja konsekuensi berasal dari tindakan kami sekarang,” kata Clay Lute, asisten pedagang di Todd Snyder, didalam sebuah panel di acara CommerceNext minggu lalu di Kota New York. “Tapi saat berbicara tentang anggaran, kami tidak memiliki duwit seperti yang dimiliki oleh beberapa generasi lain.”

Ini adalah tidak benar satu alasan mengapa ritel barang bekas menjadi begitu tenar di kalangan costumer Generasi Z. Ini memberi mereka kesempatan untuk belanja merk yang mereka sukai sambil juga menghindar suatu barang dibuang.

“Banyak berasal dari kami terlampau tertarik untuk belanja pakaian vintage, barang bekas,” kata Fay Shuai, seorang mahasiswa di University of Pennsylvania. “Ini adalah jenis usaha yang luar biasa dikarenakan Anda membuahkan duwit berasal dari pakaian yang sudah ada dan Anda mengedarkannya dan tiap-tiap generasi yang bersua bersama dengan pakaian tersebut dapat menemukan sesuatu yang baru di dalamnya.”

2. Tidak Keberatan bersama dengan Merek-Merek di Media Sosial, Selama Mereka Berperilaku Baik

“Di jaman lalu, selebriti adalah sesuatu yang tak terjamah, namun bersamaan bersama dengan perkembangan fasilitas sosial, sekarang Anda bisa menyadari apa yang dikonsumsi selebriti favorit Anda untuk sarapan,” kata Sophie Silverman, seorang mahasiswa di Tulane University. “Hal yang serupa berlaku untuk merek. Di jaman lalu, itu adalah merek-merek korporat, mereka terasa seperti sesuatu yang tak terjamah. Sekarang, Anda bisa mendekati merk dan menyaksikan orang-orang di baliknya dan menyaksikan ke belakang layar.”

Hal yang serupa berlaku untuk perusahaan, katanya. Kehadiran di fasilitas sosial tingkatkan elemen manusiawi, memicu merk lebih tentang orang-orang daripada produknya. Tetapi ada batasan-batasan pada apa yang bisa diterima oleh costumer Generasi Z.

“Ketika pemasaran dilakukan bersama dengan langkah yang tidak terlampau mencolok, maka itu lebih baik. Tetapi saat itu mengganggu kesan organik, maka itu menjengkelkan,” kata Armaan Ahmed, seorang lulusan baru berasal dari New York University.

3. Menggunakan TikTok untuk Menemukan Produk Baru, Tetapi Lebih Mempercayai Rekomendasi berasal dari Orang Terdekat

TikTok adalah platform pilihan untuk menemukan produk baru, terlebih didalam kategori kecantikan, menurut Generasi Z.

“TikTok, dibandingkan bersama dengan platform seperti YouTube, dapat memberi tambahan Anda konten yang lebih terkini, memberi tambahan Anda paparan lebih banyak pada produk-produk baru yang baru saja dirilis atau produk-produk yang menjadi viral,” kata Shuai.

Namun, panduan berasal dari keluarga atau kawan adalah yang paling berpengaruh didalam sistem pembelian yang ada di perusahaan iklan jakarta.

“Saya paling dipengaruhi oleh teman-teman saya dikarenakan mereka merupakan sumber yang paling kredibel dan saya bisa percaya pada apa yang mereka katakan,” kata Silverman. “Sedangkan influencer TikTok, saya tidak tetap percaya pada apa yang mereka katakan, saya tidak menyadari apakah mereka terlampau mencintai produk tersebut atau tidak.”

4. Kesetiaan Sulit Ditemukan, Tetapi Bukan Berarti Tidak Mungkin untuk Memenangkannya

Konsumen Generasi Z tidak terlampau pikirkan bersama dengan label dan merk seperti halnya generasi sebelumnya, menurut Shuai, dan mereka terlampau menyadari dapat seberapa banyak yang mereka konsumsi.

“Sebagai generasi, kami menghubungkan type teristimewa kami tidak cukup bersama dengan merk dan lebih bersama dengan diri kami sendiri,” katanya. “Saya menjauhkan program komitmen yang memicu Anda mencoba belanja lebih banyak. Saya terlampau menjunjung yang fokus pada keberlanjutan atau memberi tambahan disc. finansial.”

Merek yang dambakan memenangkan komitmen Generasi Z wajib bersua bersama dengan mereka di area mereka berada, kata Lute.

“RedCard Target adalah program komitmen pertama yang saya daftarkan, dan itu terlampau enteng dikarenakan saya sudah berbelanja di Target,” katanya. “Saya tidak mencoba untuk laksanakan lebih banyak pekerjaan untuk berbelanja di toko Anda. Saya tidak dapat memasukkan banyak Info pas checkout hanya untuk memperoleh beberapa poin di pengecer yang kebanyakan tidak saya beli.”

5. Mereka Tidak Berbelanja di Metaverse, Tetapi Mungkin Melakukannya di Masa Depan

Konsensus lazim adalah bahwa metaverse bukanlah area di mana Generasi Z berbelanja atau berinteraksi bersama dengan merek.

“Saya tidak terlampau percaya bahwa metaverse seperti yang ada sekarang dapat ada di jaman depan, namun saya percaya itu dapat berkembang menjadi sesuatu yang dapat kami semua menggunakan suatu hari nanti. Dan sebagai seorang Generasi Z, saya dambakan menjadi anggota darinya,” kata Lute.

Namun, generasi yang lebih muda bisa saja lebih condong berhimpun bersama dengan metaverse.

“Saya memiliki adik laki-laki yang banyak bermain game [di metaverse] dan terobsesi bersama dengan VR,” kata Shuai. “Jadi walau ada beberapa berasal dari kami yang tidak begitu berinteraksi bersambung.

dengan metaverse, ada orang-orang di luar sana yang melakukannya. Dan itu mutlak untuk diingat saat berkhayal bagaimana menggabungkan alam semesta digital bersama dengan dunia ritel.”